Proyek buku terbang

Proyek “Buku Terbang” di AS Kumpulkan 1.000 Buku untuk Indonesia

Dua warga Negara Indonesia, Dedeh Thowiyah dan Juara Elyas Tampubolon di New York adalah pencetus proyek “Buku Terbang” atau “Flying Book”.

Mereka berhasil mengumpulkan lebih dari 1.000 buku bacaan berbahasa Inggris yang akan disumbangkan untuk Indonesia, khususnya untuk anak-anak.

Semua ini berawal dari keinginan keduanya untuk membawa “oleh-oleh,” sebelum mereka kembali ke Tanah Air, setelah menyelesaikan tugas mereka sebagai staf pendukung di Konsulat Jenderal Republik Indonesia di New York.

Saat dihubungi oleh VOA Indonesia Februari lalu, Dedeh Thowiyah mengatakan buku yang terkumpul pada waktu itu baru ada sekitar 150 buku.

Wah, ini di luar dugaan. Karena memang targetnya hanya 500,” ujar Dedeh saat dihubungi kembali oleh VOA belum lama ini.

Juara Elyas Tampubolon yang akrab disapa Elyas juga tidak menyangka akan pencapaian yang diraih oleh proyek “Buku Terbang” ini.

“Kami sangat bersyukur sekali, sampai terakhir kita kirim itu sudah 1.085 buku yang kita terima, dan variasinya banyak sekali. Ada banyak buku bacaan anak-anak,” kata dia.

“Buku yang novel (teenager) semacam ‘Harry potter,’ ‘Game of Throne.’ Kebetulan ada beberapa yang kirim buku yang menurut kita lebih (untuk) dewasa. Jadinya kita kasih ke taman bacaan yang mahasiswa ke atas,” papar Elyas.

Tidak hanya donasi buku, proyek “Buku Terbang” juga mendapat sumbangan dana dari salah satu cabang bank dari Indonesia di kepulauan Cayman di Karibia.

“Dari dana itu kita belikan buku. Total nanti akan ada (tambahan) 200 buku,” ungkap Elyas.

Selain mengumpulkan buku-buku bacaan, Dedeh dan Elyas juga mendapat permintaan kamus Bahasa Inggris-Bahasa Indonesia dari para calon penerima di Indonesia.

“Kami dapat feedback dari calon penerima kita di Indonesia, ‘kalau bisa sekalian kamusnya, soalnya kalau buku anak-anak Bahasa Inggris, nanti (kalau) kita kesusahan cari kata-katanya, kita bisa cari kata-kata dari kamus.”

“Kita pikir, ‘okay, that’s a good idea,” kata Elyas.

Proyek “Buku Terbang” juga mendapat sumbangan mainan edukatif berupa kartu memori sebanyak 24 buah.

Kartu itu memiliki beragam gambar dan kata-kata, yang bisa melatih ingatan dan menambah kosakata bahasa Inggris mereka.

Selain akan menyumbangkan buku ke SD Negeri di Sigapiton yang terletak di Pulau Samosir, sebagian buku yang terkumpul juga akan diserahkan kepada organisasi Taman Baca Inovator.

Taman Baca Inovator adalah perpustakaan yang dibuka untuk anak-anak yang kurang mampu di berbagai pelosok di Indonesia, antara lain Bogor, Sulawesi dan Maluku.

Buku-buku yang khusus dewasa akan disumbangkan ke taman baca di Manokwari Papua.

“Jadi sudah mulai tersebar dari barat ke timur,” ujar Elyas.

Rencananya, ia dan Dedeh akan terjun langsung dan mengantar buku-buku tersebut kepada para calon penerimanya, khususnya anak-anak.

“Nanti kita datang ke sana untuk kasih bukunya secara langsung dan kita mau bikin semacam story telling session selama satu atau dua hari di sana,” ucap Elyas.

“Kita akan kerja sama nantinya mungkin dengan mahasiswa lokal setempat untuk jadi story teller-nya atau mungkin ya kalau tidak ada mahasiswa lokalnya, kita sendiri yang akan jadi story teller-nya,” lanjutnya.

Elyas mengatakan, para relawan di berbagai taman baca ini tengah giat mengajarkan ilmu Bahasa Inggris kepada anak-anak sekolah yang kurang mampu.

Sumber


Was This Post Helpful:

0 votes, 0 avg. rating

Share:

Bandung Mania

Leave a Comment